Prestasi Gemilang, Tapi Ferrytass Temukan PR Serius di Tubuh Gojukai Sulut

banner 120x600

RSOL, Rakyat Sulut- MANADO — Raihan 14 medali dalam Kejurnas Piala Jaksa Agung Cup III menjadi catatan positif bagi Karate-Do Gojukai Sulawesi Utara. Namun, prestasi tersebut justru dijadikan momentum untuk melakukan pembenahan besar-besaran di tubuh organisasi.

Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. Ferrytass, Dt. Toembidjo, dalam Rapat Kerja (Raker) Terpadu Pengurus Daerah (Pengda) Karate-Do Gojukai Sulut yang digelar di Aula Kejari Manado, Jumat (2/10/2026).

Sulut sebelumnya berhasil membawa pulang dua medali emas, empat perak dan delapan perunggu. Dari capaian tersebut, Rifelo Tumembow menyabet predikat Best of The Best, sementara Heaven Kawet menjadi juara Kumite U-21.

Meski demikian, Ferrytass mengingatkan agar prestasi tersebut tidak membuat jajaran Gojukai terlena. Menurutnya, medali hanyalah hasil akhir dari sebuah proses pembinaan yang harus ditopang organisasi yang tertib.

“Banyak yang beranggapan medali emas adalah tujuan akhir. Itu keliru besar,” tegasnya.

Ia menilai masih terdapat sejumlah persoalan yang harus dibenahi, terutama terkait tata kelola dojo, administrasi anggota, sertifikasi pelatih dan validitas data atlet.

Ferrytass bahkan meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap keberadaan dojo di Sulawesi Utara. Setiap dojo harus memiliki status dan standar pembinaan yang jelas serta berada dalam sistem organisasi Pengda Gojukai.

“Setiap dojo akan diaudit. Sertifikat dojo akan ditarik dan dievaluasi ulang. Pelatih yang tidak memiliki sertifikasi resmi Gojukai akan dilarang melatih,” ujarnya.

Tak hanya itu, Pengda juga didorong membangun database keanggotaan terpusat. Sistem tersebut nantinya memuat rekam jejak atlet sejak pertama kali bergabung hingga mengikuti berbagai kejuaraan.

Menurut Ferrytass, sistem database penting untuk memastikan tidak terjadi persoalan administrasi, klaim ganda atlet maupun perpindahan atlet yang tidak sesuai ketentuan.

“Di Gojukai, satu data atlet yang palsu atau dojo yang fiktif bisa menghancurkan sistem regenerasi,” katanya.

Pembenahan tersebut juga diarahkan untuk memperluas kesempatan atlet dari berbagai daerah di Sulawesi Utara. Ferrytass menilai potensi atlet tidak hanya berada di pusat kota, tetapi juga tersebar di berbagai kabupaten dan kepulauan.

Karena itu, penguatan pembinaan usia dini, peningkatan kualitas pelatih dan sistem pencarian bibit atlet menjadi bagian penting dari agenda organisasi.

“Kita tidak sedang membangun klub untuk menang di tingkat provinsi. Kita sedang membangun pabrik atlet elit untuk panggung PON, SEA Games, hingga Olimpiade,” tandas Ferrytass.

Raker terpadu tersebut pun menjadi momentum evaluasi, sekaligus penataan kembali sistem pembinaan Gojukai Sulut, dengan target melahirkan organisasi yang lebih tertib dan mampu mencetak atlet berprestasi secara berkelanjutan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *