RSOL, Rakyat Sulut – Demi penguatan dokumentasi, publikasi dan penyebarluasan pengetahuan budaya Sulawesi Utara. Pasalnya, diseminasi karya budaya melalui kegiatan peluncuran dan diskusi buku Warisan Budaya Takbenda (WBTB) sukses digelar.
Pelaksanaanya bertempat di Tondano, Aula LP3M Universitas Negeri Manado (Unima) pada Selasa, 29 September 2026. Kegiatan ini merupakan Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah dalam mendorong lahirnya karya-karya kebudayaan serta memperluas manfaatnya bagi masyarakat dan dunia akademik.
Karya buku WBTB Sulawesi Utara tersebut merupakan hasil dari program yang diterima oleh Hamsah, Dosen Pendidikan Sosiologi Unima, sebagai penerima manfaat program. Melalui kegiatan tersebut hasil karya tidak hanya dipublikasikan dalam bentuk buku, tetapi juga didiseminasikan melalui ruang akademik dan dialog kebudayaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Peluncuran buku secara resmi dilakukan oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Unima Prof. Dr. Theodorus Pangalila, S.Fils, SH, M.Pd sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap pengembangan kajian kebudayaan serta kontribusi akademisi dalam mendokumentasikan kekayaan budaya daerah.
Selain agenda peluncuran buku, kegiatan juga dirangkaikan dengan diskusi buku yang menghadirkan sejumlah akademisi sebagai narasumber dan pemantik diskusi. Kegiatan tersebut menghadirkan perspektif ilmiah mengenai pentingnya dokumentasi WBTB, penguatan identitas budaya, serta peran pendidikan dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya. Diskusi menghadirkan pemantik dari kalangan akademisi, di antaranya Guru Besar Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Manado serta dosen Pendidikan Sosiologi yang memiliki bidang kajian kebudayaan.
“Para peserta diajak untuk memahami bahwa WBTB tidak hanya menjadi bagian dari sejarah dan identitas masyarakat, tetapi juga merupakan sumber pengetahuan yang perlu terus dikaji, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Hamsah, Dosen Pendidikan Sosiologi Unima dalam press release yang diterima dapur redaksi Rakyat Sulut, Jumat (2/10/2026).
Dia menjabarkan bahwa diseminasi karya ini diikuti oleh 77 peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari mahasiswa, pemerintah, komunitas budaya, hingga para pelaku budaya. Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan adanya kolaborasi antara dunia akademik, pemerintah, dan masyarakat dalam mendukung pelestarian serta pengembangan kebudayaan Sulawesi Utara.
Pelaksanaan kegiatan juga mendapat perhatian dari Balai Pelestarian Kebudayaan yang hadir secara langsung dalam rangka melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program.
“Ini menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa kegiatan berjalan sesuai dengan tujuan Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan, khususnya dalam mendukung penciptaan, pengembangan, dan diseminasi karya budaya,” kunci Hamsah.(ika)














