Kajati Sulut Hadiri FPSL 2026, Kolaborasi Maritim dan Pariwisata Diperkuat

banner 120x600

RSOL, Rakyat Sulut- BITUNG – Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) 2026 tidak sekadar menjadi panggung promosi pariwisata bahari. Festival yang digelar di Kota Bitung, Sulawesi Utara, Sabtu (10/10/2026), juga menegaskan pentingnya keselamatan pelayaran dan keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.

Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung di Satrol Kodaeral VIII. Hadir dalam kegiatan itu Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. Ferrytass, S.H., M.Hum., Dt. Toembidjo, bersama Kepala Kejaksaan Negeri Bitung, Erwin Widihantono, S.H., M.H.

Kehadiran jajaran Kejaksaan menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan potensi maritim, pariwisata, serta upaya memperkuat keselamatan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada laut.

Sebelum seremoni pembukaan festival, kegiatan diawali dengan forum Public Audience Monitoring dan evaluasi keselamatan berlayar yang diselenggarakan Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kementerian Perhubungan.

Forum tersebut menyoroti pentingnya keselamatan pelayaran, khususnya bagi nelayan dan pelaku usaha kapal wisata yang beraktivitas di perairan Selat Lembeh dan sekitarnya.

Dalam kesempatan itu, Plt. Kajati Sulut bersama perwakilan Kementerian Pariwisata dan pejabat terkait menyaksikan penyerahan plakat penghargaan serta pembagian simbolis pelampung keselamatan (life jacket) kepada nelayan dan pelaku usaha kapal wisata.

Langkah tersebut menegaskan bahwa keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas, bukan sekadar respons setelah kecelakaan terjadi. Ketersediaan perlengkapan keselamatan, kepatuhan terhadap aturan, dan kesiapan menghadapi risiko merupakan bagian penting dalam setiap aktivitas di laut.

Di tengah meningkatnya daya tarik wisata bahari Bitung, perlindungan terhadap nelayan, awak kapal, dan wisatawan menjadi semakin penting. Sebab, laut bukan hanya menyuguhkan panorama yang menarik bagi wisatawan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan dan ruang ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Selat Lembeh, Potensi Bahari yang Mendunia

Setelah rangkaian kegiatan keselamatan pelayaran, FPSL 2026 dilanjutkan dengan seremoni pembukaan. Festival yang masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 tersebut mengusung tema “Together in Harmony”, yang menekankan semangat kebersamaan dan keharmonisan dalam merayakan kekayaan budaya serta bahari.

Sejumlah atraksi turut memeriahkan festival, di antaranya Parade Masamper, Sailing Pass x Marpolex 2026, Dancing on The Boat, serta Tuna and Kolintang Experience yang memadukan kuliner berbahan tuna dengan alunan musik tradisional kolintang.

Berbagai pertunjukan itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana memperkenalkan identitas budaya masyarakat Bitung. Tradisi seni, kekayaan kuliner, dan hubungan masyarakat dengan laut menjadi bagian dari daya tarik yang memperkuat karakter pariwisata daerah.

Kehadiran perwakilan konsulat negara sahabat, termasuk Jepang dan Filipina, turut memberi dimensi internasional pada penyelenggaraan FPSL tahun ini.

Sebagai salah satu destinasi unggulan Kota Bitung, Selat Lembeh memiliki potensi besar untuk menggerakkan sektor pariwisata, usaha kuliner, transportasi laut, hingga berbagai kegiatan ekonomi masyarakat setempat.

Namun, pengembangan potensi tersebut membutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan agar manfaat ekonomi tidak berhenti ketika festival berakhir. Keterlibatan masyarakat pesisir, perlindungan lingkungan, serta jaminan keselamatan pelayaran menjadi faktor penting untuk menjaga daya tarik kawasan ini.

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci

Penyelenggaraan FPSL 2026 juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong pembangunan daerah berbasis maritim.

Sejumlah pejabat yang hadir antara lain Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan Kementerian Pariwisata, Titik Lestari, M.Si., yang mewakili Menteri Pariwisata RI; Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Dr. Triono, S.Pel., M.M., M.H.; Gubernur Sulawesi Utara; serta Wali Kota Bitung, Hengky Honandar, S.E.

Jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulawesi Utara dan Kota Bitung juga turut hadir, termasuk Kapolda Sulut, Komandan Kodaeral VIII, Danrem 131/Santiago, Dansatrol Kodaeral VIII, Danlanudsri Manado, Kabinda Sulut, Kepala BPK RI Perwakilan Sulut, Kepala BNNP Sulut, dan Ketua Pengadilan Tinggi Manado.

Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan bahwa pengembangan pariwisata bahari membutuhkan dukungan bersama, mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, unsur pertahanan dan keamanan, hingga pelaku usaha serta masyarakat.

Dalam konteks pembangunan daerah, kehadiran Plt. Kajati Sulut dan Kajari Bitung menjadi bagian dari dukungan institusi Kejaksaan terhadap agenda pembangunan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Pada akhirnya, keberhasilan FPSL tidak semestinya hanya diukur dari jumlah pengunjung atau kemeriahan atraksi. Dampak ekonomi bagi masyarakat, terbukanya peluang usaha, terpeliharanya budaya lokal, serta meningkatnya kesadaran keselamatan pelayaran juga menjadi indikator penting.

Festival Pesona Selat Lembeh 2026 diharapkan mampu memperkuat posisi Bitung sebagai destinasi wisata bahari sekaligus mendorong pengelolaan laut yang aman dan berkelanjutan.

Sebab, Selat Lembeh bukan sekadar kebanggaan Kota Bitung, melainkan warisan bahari yang perlu dijaga bersama agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *