Bitung  

Tekan Penyebaran TBC, Pemkot Bitung Launching Tracing Terintegrasi dan Cek Kesehatan Gratis

banner 120x600

RSOL/Rakyatsulutonline.com, Bitung — Pemerintah Kota (Pemkot) Bitung terus memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) dengan meluncurkan tracing terintegrasi serta layanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat.

Wali Kota Hengky Honandar SE., yang diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Bitung, Forsman Dandel, S.Sos., didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Bitung dr. Pitter Lumingkewas, M.Kes., bersama Camat Madidir Heimans Kansil, S.E., Lurah Wangurer Barat Rhina S. Tewuh, S.P., Kepala Puskesmas Paceda dr. Feybie Thenderan, M.Kes., serta Ketua TP-PKK Kecamatan Madidir Ny. Selfy Kansil Amana, secara resmi melaunching Tracing TBC Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Balai Pertemuan Kelurahan Wangurer Barat, Kamis (13/8/2026).

Dalam sambutan Wali Kota Hengky Honandar yang dibawakan oleh Asisten I Setda kota Bitung Forsman Dandel menegaskan, penanganan TBC tidak boleh hanya dilakukan ketika masyarakat sudah mengalami gejala. Upaya deteksi dini dan pelacakan terhadap orang yang berpotensi terpapar menjadi langkah penting untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit tersebut.

Yang paling penting adalah bagaimana kita melakukan pencegahan dan menemukan kasus sedini mungkin. Jangan sampai masyarakat yang sudah terpapar tidak terdeteksi dan kemudian menularkan kepada orang lain,” ujarnya.

Menurutnya, program tracing terintegrasi diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat dalam menemukan dan menangani kasus TBC.

Selain tracing, Pemkot Bitung juga mendorong masyarakat memanfaatkan layanan cek kesehatan gratis. Langkah ini dinilai penting sebagai bagian dari deteksi dini berbagai penyakit sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi kesehatannya.

Kita ingin masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan. Kalau ada pemeriksaan gratis, silakan dimanfaatkan. Semakin cepat kita mengetahui kondisi kesehatan, semakin cepat pula penanganan bisa dilakukan,” katanya.

Forsman juga menambahkan, integrasi kedua program tersebut dinilai menjadi langkah konkret untuk mempercepat penanggulangan dan eliminasi TBC di Indonesia. CKG dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan kasus TBC sedini mungkin, terutama melalui pelacakan kontak erat secara lebih menyeluruh.

Dengan menemukan kasus lebih cepat, memberikan pengobatan secara tepat dan tuntas, serta melindungi orang-orang yang berisiko tertular, kita dapat bersama-sama memutus mata rantai penularan TBC”, ucapnya.

Ia juga mengajak masyarakat yang menjadi sasaran tracing agar tidak takut, malu, maupun ragu mengikuti pemeriksaan.

Pemeriksaan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Justru dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, kita dapat segera mengambil langkah yang tepat,” ungkapnya.

Dandel juga menekankan, keberhasilan pengendalian TBC membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Masyarakat diminta tidak memberikan stigma kepada pasien TBC, melainkan mendukung proses pengobatan hingga tuntas.

Mari kita jadikan kegiatan ini bukan sekadar kegiatan pemeriksaan, tetapi sebagai gerakan bersama untuk menemukan, mengobati, mencegah, dan memutus penularan TBC,” tambahnya.

Di akhir sambutan, Forsman menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan, seluruh tenaga kesehatan, para kader, jajaran lintas sektor, serta masyarakat yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.

Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kota Bitung, mempercepat penemuan dan penanganan kasus, sekaligus mendukung target Indonesia bebas TBC menuju eliminasi TBC tahun 2030. (fik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *