RSOL/Rajyatsulutonline.com, BITUNG — Sebanyak Rp5 miliar uang rupiah kembali dibawa menuju lima pulau terluar di Sulawesi Utara melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat Tahun 2026. Misi Bank Indonesia (BI) bersama TNI Angkatan Laut ini dilepas secara resmi dari Dermaga Samuel Languyu Satrol Kodaeral VIII, Kota Bitung. Pada, Jumat (11/9/2026).
Pelepasan ekspedisi dipimpin Dankodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., M.Tr.Opsla., melalui Upacara Pelepasan Ekspedisi Rupiah Berdaulat Tahun 2026.
Dalam upacara tersebut, turut dihadiri oleh Wadankodaeral VIII, Kepala Bank Indonesia Sulut, Ketua Tim Satgas Bank Indoensia Sulut, Kepala Biro Perekonomian Sekda Provinsi Sulut, Ir Kodaeral VIII, Kapoksahli Kodaeral VIII, Seluruh Asisten Dankodaeral VIII, Dansathantai Kodaeral VIII, Dansatrol Kodaeral VIII, Kakuwil Kodaeral VIII, Kadiskes Kodaeral VIII, Kadister Kodaeral VIII, Pjs. Karumkital dr. Wahyu Slamet Bitung, Ka akun Kodaeral VIII, Kafasharkan Bitung.
Upacara diawali dengan penyampaian sambutan oleh perwakilan Bank Indonesia, Joko Supratikto, kemudian dilanjutkan prosesi penyematan atribut Satuan Tugas (Satgas) Ekspedisi Rupiah Berdaulat Tahun 2026 kepada personel yang akan menjalankan misi.
Prosesi penyematan atribut dilakukan secara berjenjang, yang diawali oleh Kepala Bank Indonesia kepada Komandan KRI Sidat-851, kemudian dilanjutkan oleh Dankodaeral VIII kepada Ketua Tim Satgas Bank Indonesia. Selanjutnya, Kepala Biro Perekonomian Sekda Provinsi Sulawesi Utara menyematkan atribut kepada anggota Satgas Bank Indonesia.
Ekspedisi ini tidak sekadar membawa uang tunai ke wilayah kepulauan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan ketersediaan rupiah layak edar sekaligus menjaga penggunaan rupiah di wilayah terluar, terdepan dan terpencil.
Dalam misi kali ini, BI dan TNI AL akan menjangkau lima pulau, yakni Tagulandang, Karatung, Marore, Kalama, dan Mahangetang. Selain mendistribusikan uang layak edar, ekspedisi juga diarahkan untuk menarik uang rupiah yang sudah tidak layak edar dari masyarakat dan menggantinya dengan uang baru sesuai ketentuan. Dalam ekspedisi ini, masyarakat akan mendapatkan edukasi mengenai pentingnya mencintai, menggunakan dan merawat rupiah.
Kolaborasi BI dan TNI AL tersebut, sekaligus mempertegas bahwa menjaga kedaulatan di wilayah kepulauan tidak hanya berkaitan dengan aspek pertahanan dan keamanan wilayah, tetapi juga memastikan rupiah hadir dan digunakan sebagai alat pembayaran yang sah hingga ke pulau-pulau terluar Indonesia.
Sementara bagi TNI AL, keterlibatan dalam ekspedisi ini merupakan bagian dari dukungan terhadap pelaksanaan tugas negara di wilayah kepulauan, terutama daerah yang secara geografis sulit dijangkau melalui jalur distribusi reguler.
Dankodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi menegaskan kesiapan TNI AL mendukung program tersebut melalui penyediaan kapal dan personel.
Pada tahun ini kita telah melaksanakan dua kali program Rupiah Berdaulat. TNI Angkatan Laut selalu siap menyiapkan unsur atau KRI untuk mengantar Rupiah Berdaulat ke pulau-pulau 3T, yaitu terluar, terpencil dan terdepan,” ujar Dery.
Dukungan personel juga disiapkan untuk memastikan misi berjalan aman dan lancar. Selain personel TNI AL, unsur pendukung dari instansi terkait turut dilibatkan, termasuk tim kesehatan dan pengamanan selama pelayaran.
Personel TNI AL kita siapkan, termasuk dukungan personel tambahan untuk kesehatan dan keamanan. Semuanya menjadi bagian dari kesiapan Satgas selama melaksanakan ekspedisi,” ucapnya.
Beliau juga mengatakan, keberadaan unsur TNI AL di wilayah terluar menjadi salah satu modal penting dalam mendukung program pemerintah yang menjangkau masyarakat kepulauan.
Sinergi TNI AL dan Bank Indonesia dalam Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 memperlihatkan bahwa distribusi Rupiah ke wilayah 3T membutuhkan lebih dari sekadar sistem logistik. Selain faktor geografis, keamanan, ketersediaan transportasi laut, serta keberadaan aparat negara di pulau-pulau sasaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026 diharapkan mampu memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat kepulauan sekaligus meningkatkan pemahaman bahwa rupiah merupakan bagian penting dari identitas dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (fik)














