RSOL, Rakyat Sulut, Minut — Politeknik Negeri Manado bekerja sama PT Pelindo kembali menyelenggarakan pelatihan hospitality bagi pengelola UMKM Kuliner di Desa Budo, Kecamatan Wori, Minahasa Utara (Minut). Pelatihan tersebut dalam rangka pelaksanaan intervensi Desa Budo di tahun ke 2.
Pelatihan dilaksanakan selama dua hari, pada 12 -13 November 2024. Hadir dalam giat, dosen yang memiliki kompetensi di Bidang Hospitality. Peserta berjumlah 20 orang, yang terdiri pengelola kuliner yang tergabung dalam Bumdesa Sinar Usaha Budo, dan Direktur BUmdesa Stevy Rumonda.
Hukum Tua (Kumtua) Desa Budo Lisbet Lintogareng mengatakan bahwa pihaknya sangat berterima kasih kepada PT Pelindo yang banyak membantu pengembangan Desa Budo.
“Tidak hanya fasilitas yang diperhatikan, tetapi juga sumber daya manusia sangat diperhatikan. Ini dibuktikan pada hari ini, dimana melibatkan Politeknik Negeri Manado sebagai institusi pendidikan untuk terlibat dalam memberikan pelatihan hospitality bagi pengelola wisata,” ujar Lisbet dalam sambutannya.
Direktur Bumdesa Budo Stevy Rumonda menuturkan, kepada peserta untuk menyikapi dengan benar berbagai pelatihan yang diberikan.
“Selalu diingat dan dipraktikan karena ini untuk pengembangan desa wisata. Terima kasih kepada PT Pelindo, yang sangat memperhatikan desa wisata Budo,” ucap Rumonda.
Direktur Politeknik Negeri Manado Dra Maryke Alelo MBA menitip pesan kepada Pemerintah Desa Budo, lewat PIC program Pelatihan Hospitality Benny Towoliu bahwa pengelola Bumdesa Sinar Usaha Budo dan peserta kegiatan untuk senantiasa memanfaatkan dengan baik keseluruhan program yang telah diberitakan oleh PT Pelindo.
“Ini dijaga dengan baik fasilitas yang sudah diberikan. Kami berterima kasih kepada PT Pelindo yang sudah melibatkan Politeknik Negeri Manado dalam pelaksanaan intervensi desa wisata Budo di tahun ke 2,” ujar Towoliu.
Untuk diketahui, dasar dari diberikannnya pelatihan ini karena adanya beberapa pengeluhan yang disampaikan oleh pengelola wisata sendiri. Utamanya terkait standart pelayanan meja dan penyajian makanan, yang sudah jauh dari standart pelayanan pariwisata. Selain itu adanya kajian penelitian di Tahun 2023 lalu yang telah direkomendasikan ke Pemerintah Desa Budo melalui Lisbet Lintogereng, terkait lemahnya pelayanan yang dilakukan oleh pengelola kuliner dibuktikan adanya complain terkait dengan waktu tunggu pelayanan meja, kesalahan pengantaraan makanan, tata cara pelayanan meja serta kebersihan. Keberatan-keberatan tersebut telah disampaikan ke Pemerintah Desa yang berfungsi sebagai pengawas Bundesa Desa Budo, dan sudah menjadi bahan evaluasi. Rekomendasi ini menjadikan gayung bersambut, sehingga dijadikan salah satu program utama untuk dibekali.(*fap/but)














