Poros Bitung – Tiongkok, Sulut Jadi Gerbang Logistik Asia

banner 120x600

Rakyat Sulut, Manado – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara turut aktif mendorong transformasi kawasan. Pasalnya, Kawasan Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua) menuju pusat logistik global, khususnya Asia.

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling mengatakan bahwa kawasan Sulampua merupakan salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dengan kontribusi ekspor yang diperkirakan mencapai USD 25–30 miliar per tahun atau sekitar 15–18 persen dari total ekspor nasional,” ujar Gubernur Yulius, pada Forum Group Discussion (FGD) bertajuk Transformasi Sulampua Menuju Global Logistics Hub untuk Penguatan Efisiensi dan Daya Saing Logistik Kawasan Indonesia Timur, bertempat di Aula GKN Manado, Senin (19/12/2025).

Ia menegaskan bahwa sebagian besar arus barang kawasan timur Indonesia masih bergantung pada pelabuhan di Pulau Jawa. Alhasil menyebabkan tingginya biaya logistik dan panjangnya waktu tempuh pengiriman.

“Pengembangan direct call dari Bitung berpotensi memangkas waktu pelayaran ke Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok dari 25–30 hari menjadi sekitar 7–10 hari serta menurunkan biaya logistik hingga 20–30 persen,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut YSK sapaan akrabnya, penetapan Bitung sebagai simpul logistik nasional harus dipandang sebagai kepentingan bersama seluruh kawasan Sulampua, bukan semata-mata kepentingan daerah tertentu. “Keberhasilan Sulut sebagai hub logistik akan menciptakan ekosistem baru yang mendorong pertumbuhan pergudangan, pusat distribusi regional, pelabuhan pengumpul (feeder ports) serta menjadi magnet masuknya investasi berkualitas ke Indonesia Timur,” jelasnya lagi.

Sementara itu, Duta Besar Djauhari Oratmangun menegaskan, Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia sekaligus salah satu sumber investasi terbesar. Menurutnya, dalam satu dekade terakhir, nilai perdagangan Indonesia–Tiongkok melonjak signifikan dari USD 44 miliar pada 2015 menjadi USD 148 miliar pada 2024, atau meningkat lebih dari 236 persen. Pada periode Januari–November 2025, total perdagangan kedua negara tercatat mencapai USD 150,36 miliar, dengan neraca perdagangan relatif seimbang.

“Di bidang investasi, realisasi investasi Tiongkok di Indonesia juga meningkat tajam dari USD 630 juta pada 2015 menjadi USD 8,1 miliar pada 2024, dan pada 2025 Tiongkok masih menempati peringkat tiga besar investor asing di Indonesia,” ujarnya.

Dia menegaskan, sektor utama investasi meliputi industri pengolahan logam, transportasi dan pergudangan, energi, industri kimia dan farmasi, serta infrastruktur strategis. Menurut Dubes, pembukaan jalur direct call Bitung–Tiongkok merupakan terobosan penting dalam rantai pasok regional Asia Timur.

“Ini bukan sekadar jalur perdagangan, tetapi jalur pertumbuhan dan investasi. Direct call akan mempercepat arus barang, menurunkan biaya Logistik, meningkatkan daya saing produk Indonesia Timur, serta membuka peluang integrasi ke regional value chains Asia Timur,” ucapnya.

Dia menuturkan, pengembangan Bitung juga sejalan dengan sinergi poros maritim dunia dan Belt and Road Initiative (BRI).

“Sulut diproyeksikan sebagai Pacific Rim Economic Hub yang terintegrasi dengan kawasan industri dan pelabuhan di Tiongkok, termasuk melalui skema Two Countries Twin Parks dan Twin Portsm,” kunci Dubes.

Untuk diketahui, FGD dihadiri Wakil Gubernur Johannes Victor Mailangkay. Pemangku kepentingan strategis dari dalam dan luar negeri seperti Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok, Djauhari Oratmangun, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, pimpinan instansi vertikal, pelaku usaha logistik, eksportir dan importir serta investor dari Indonesia dan Tiongkok.

Diskusi dipandu Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara Erwin Situmorang bersama Ketua APINDO Sulawesi Utara Riko Lieke.(*but)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *