Bitung  

Rukun Tasumaro Gelar Upacara Adat Tulude, Simbol Persatuan Masyarakat Pesisir di Kota Bitung

banner 120x600

RSOL, Rakyatsulutonline.com, BITUNG — Masyarakat pesisir pantai Dodik Kelurahan Wangurer, Kecamatan Girian, yang terhimpun dalam Rukun Tasumaro menggelar Upacara Adat Tulude, Minggu (15/2/2026) sebagai simbol persatuan lintas iman di Kota Bitung.

Upacara adat tulude merupakan tradisi tahunan masyarakat etnis Sangihe, Talaud, dan Sitaro yang sarat dengan nilai religius, budaya, serta kebersamaan. Ini menjadi momentum ungkapan syukur atas berkat Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menegaskan peran adat sebagai instrumen sosial dalam merawat harmoni di tengah kemajemukan bangsa.

Tulude rukun Tasumaro mengusung tema “Mekoa Munara Mapia Ghihile Ana U Sembau Mawu Rumendingang Si Kite Kebi”. Prosesi berlangsung khidmat, memperlihatkan bahwa nilai budaya masih menjadi titik temu yang kokoh bagi kehidupan bersama.

Salah satu momen simbolik terlihat ketika seluruh prosesi dihentikan sejenak saat kumandang azan berkumandang, sebagai wujud penghormatan terhadap umat Muslim di tengah komunitas yang terdiri dari berbagai keyakinan.

Kegiatan ini diawali dengan penjemputan Kue adat Tamo yang diarak menuju bangsal dan dijemput oleh Pemerintah Kelurahan Wangurer, bersama Danramil Danramil Kodim 1310/Bitung Markus Tilaar, serta Panglima Brigade Nusantara Utara Kota Bitung sekaligus Ketua HNSI Bitung, Mario Mamuntu. Kemudian dilanjutkan dengan pemotongan kue adat tamo sesuai dengan tradisi atau bagian ritual dari adat Tulude yang dilakukan dalam berbagai acara adat oleh Yakonia Nanangkong, S.Pd, selaku Tokoh Adat Nusa Utara Kota Bitung.

Prosesi pemotongan Kue Tamo menjadi salah satu ritus paling sakral. Kue Tamo kemudian diserahkan kepada Panglima Adat Brigade Nusa Utara Indonesia sebagai simbol amanah moral untuk menjaga persaudaraan dan nilai kebersamaan masyarakat Nusa Utara di tengah tantangan zaman.

Menanggapi amanah tersebut, Panglima Brigade Nusa Utara Indonesia, Ical Mamuntu menegaskan bahwa tanggung jawab adat tidak berhenti pada seremoni, melainkan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata menjaga persatuan.

“Penyerahan Kue Tamo ini adalah amanah besar. Warisan leluhur harus tetap hidup dan menjadi perekat sosial di tengah arus modernisasi dan globalisas,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa Tulude adalah refleksi jati diri masyarakat pesisir yang menjadikan perbedaan sebagai kekuatan kolektif. Ia menekankan bahwa adat memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan sosial bangsa.

Upacara Tulude membuktikan bahwa perbedaan keyakinan bukan pemisah, melainkan kekuatan organik. Di pesisir Bitung, kita menunjukkan bahwa adat dan rasa syukur mampu menyatukan semua,” tegas Ical.

Lebih jauh, Mamuntu juga mengingatkan
pentingnya kebersamaan sebagai fondasi menghadapi dinamika sosial dan ekonomi ke depan.

“Persatuan lahir dari kerendahan hati untuk bersyukur. Kita tidak bisa berjalan sendiri. Kebersamaan adalah kunci agar masyarakat Nusa Utara tetap tangguh menghadapi perubahan,” tuturnya.

Dikesempatan yang sama, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kota Bitung (HNSI), Mario Mamuntu mengatakan bahwa Tulude memiliki fungsi strategis sebagai ruang konsolidasi sosial masyarakat pesisir yang bertumpu pada nilai gotong royong dan solidaritas.

Tulude adalah ruang persatuan masyarakat pesisir. Tradisi ini menumbuhkan semangat kebersamaan yang menjadi modal sosial utama dalam membangun kesejahteraan,” ungkap Mario.

Ia juga menekankan bahwa kekuatan budaya harus ditempatkan sebagai energi pembangunan, bukan sekadar peninggalan masa lalu.

Ini bukan hanya warisan budaya, tetapi energi moral yang mendorong masyarakat agar tetap berdaya, mandiri, dan sejahtera,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Rukun Tasumaro yang diwakili oleh Sartika Manuel sebagai Wakil Ketua Rukun Tasumaro mengatakan bahwa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan juga atas kerjasama yang baik dari seluruh anggota rukun.

“Kami sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan yang Maha Kuasa, berkat kerja sama yang baik dari pengurus dan anggota sehingga Upacara Adat Tulude disaat ini boleh terlaksana dengan baik,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah terlibat, sehingga kegiatan Tulude boleh terlaksana.

“Saya sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dan sudah mensponsori kegiatan tulude dari awal sampai selesai, serta berharap Rukun Tasumaro akan terus berkembang sesuai dengan namanya dan semoga akan lebih baik lagi kedepannya,” pungkasnya.

Acara tersebut ditutup dengan sesi foto bersama pengurus dan anggota rukun Tasumaro, sekaligus penyerahan hadiah lomba Racing Pakura, dan atraksi seni tari yang menandai kuatnya ikatan emosional dan kebersamaan warga pesisir Pantai Dodik. (fik).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *