Michaela Elsiana Paruntu Kembali Dipercayakan Melayani Remaja GIR: Mengandalkan Tuhan, Melayani dengan Hati

banner 120x600

RAKYATSULUT, MANADO— Kepercayaan dalam pelayanan bukan semata-mata tentang jabatan, apalagi soal banyaknya suara yang diperoleh.

Lebih dari itu, pelayanan adalah panggilan iman, sebuah kesempatan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan dengan hati yang tulus, kerendahan hati, dan kesediaan untuk berjalan bersama dalam kasih.

Nilai inilah yang menjadi semangat Michaela Elsiana Paruntu (MEP) ketika kembali dipercayakan melayani sebagai Penatua Komisi Remaja GMIM Imanuel Ranowangko (GIR) untuk periode ketiga.

Dalam pemilihan yang berlangsung, Michaela memperoleh dukungan sebanyak 53 suara, unggul dari dua kandidat lainnya, Christa Kaunang yang meraih 9 suara dan Martje Pangemanan dengan 1 suara.

Hasil tersebut menempatkan Michaela sebagai peraih suara terbanyak sekaligus menunjukkan besarnya kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk kembali mengambil bagian dalam pelayanan remaja di jemaat GMIM Imanuel Ranowangko.

Namun, di balik hasil pemilihan tersebut, ada hal yang jauh lebih bermakna daripada sekadar angka: kesediaan untuk kembali melayani dan kerendahan hati untuk menyadari bahwa setiap tugas pelayanan membutuhkan penyertaan Tuhan.

Bagi Michaela, kepercayaan untuk periode ketiga ini bukanlah alasan untuk berbangga diri, melainkan sebuah tanggung jawab iman yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh.

Ia menyambut kepercayaan tersebut dengan memohon dukungan doa, menyadari bahwa pelayanan yang berkenan kepada Tuhan tidak dapat dijalankan hanya dengan mengandalkan kemampuan manusia, tetapi membutuhkan hikmat, kekuatan, dan tuntunan-Nya.

“Mohon doanya dan berserah kepada Tuhan supaya bisa mampu memberikan pelayanan terbaik untuk remaja GIR (GMIM Imanuel Ranowangko),” ungkap Michaela.

Ungkapan tersebut mencerminkan sikap seorang pelayan yang menempatkan Tuhan sebagai pusat pengabdiannya.

Sebab, menjadi pelayan Tuhan bukan sekadar bersedia berdiri di depan, memikul tanggung jawab, atau menerima kepercayaan dari jemaat. Lebih dari itu, seorang pelayan dipanggil untuk terus merendahkan hati, menjaga ketulusan, dan menyadari bahwa setiap langkah pelayanan harus senantiasa diserahkan ke dalam tangan Tuhan.

Bagi seorang yang takut akan Tuhan, kepercayaan bukanlah alasan untuk meninggikan diri, melainkan panggilan untuk semakin setia. Pelayanan bukan tentang siapa yang paling menonjol, tetapi tentang bagaimana setiap talenta, waktu, dan kesempatan dapat dipersembahkan bagi kemuliaan nama Tuhan.

“Terima kasih untuk kakak-kakak pembina yang sudah memberi kepercayaan ini. Torang kerja sama-sama buat Tuhan,” ujarnya.

Kalimat sederhana tersebut menyimpan pesan penting tentang makna pelayanan Kristen: tidak berjalan sendiri, tidak bekerja demi kepentingan pribadi, melainkan bergandengan tangan dalam satu tujuan, yakni melayani Tuhan dan mendampingi generasi muda untuk semakin bertumbuh dalam iman.

Sebab, pelayanan remaja memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan bergereja. Di dalamnya, ada tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai Kristiani, membentuk karakter yang berlandaskan firman Tuhan, serta mendampingi para remaja agar mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan arah iman dan jati diri sebagai anak-anak Tuhan.

“Pelayanan yang sejati bukan tentang seberapa tinggi seseorang dipercaya oleh manusia, melainkan seberapa sungguh bersedia merendahkan hati, taat kepada Tuhan, dan setia mengerjakan panggilan-Nya,” kunci MEP. (Ras/Val)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *