Ketika Dr. Muharto Mengubah UDK: Pendidikan Terjangkau, Riset dan Kampus Baru

banner 120x600

RSOL, Rakyat Sulut- KOTAMOBAGU — Dua tahun kepemimpinan Dr. Muharto S.Pd.I., S.E., M.Si. Hari di Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK) meninggalkan jejak yang tidak hanya terlihat dari bangunan fisik, tetapi juga dari upaya membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat Bolaang Mongondow Raya.

Sejak dilantik sebagai Rektor UDK pada 15 Juli 2024 untuk masa bakti 2024–2028, Muharto langsung menghadapi pekerjaan besar. Hanya 22 hari berselang, tepatnya 6 Agustus 2024, UDK memulai pembangunan kampus baru di Desa Poyowa Besar Satu, Kecamatan Kotamobagu Selatan.

Rentang waktu tersebut menjadi penanda bahwa kepemimpinan Muharto ingin menempatkan kerja nyata di depan.

Bagi Muharto, kampus bukan sekadar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Perguruan tinggi harus menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Dari Ruang Akademik ke Pembangunan Daerah

Sebagai akademisi di bidang manajemen, Muharto memiliki perhatian terhadap strategi pembangunan, daya saing daerah, hingga pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Gagasan tersebut tidak berhenti dalam ruang akademik. Pengalaman penelitian dan pemikirannya mengenai pembangunan berkelanjutan menjadi salah satu pijakan dalam melihat arah pengembangan UDK.

Ia ingin kampus tidak berjalan sendiri. Pengetahuan yang dihasilkan dosen dan mahasiswa harus memiliki hubungan dengan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, penguatan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat menjadi bagian penting dalam arah kepemimpinannya.

Bogani Smart, Pendidikan Tinggi untuk Semua

Salah satu kebijakan yang paling mencuri perhatian adalah program Bogani Smart.

Melalui program tersebut, UDK berusaha menjawab persoalan klasik yang dihadapi banyak keluarga: keinginan melanjutkan pendidikan tinggi yang terbentur kemampuan ekonomi.

Pada penerimaan mahasiswa baru 2026, UDK menawarkan biaya pendidikan hingga selesai kuliah sebesar Rp2,5 juta.

“Kuliah di UDK sampai selesai hanya membayar 2,5 juta rupiah,” ujar Muharto saat memperkenalkan program tersebut.

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kebijakan tersebut menjadi peluang untuk membuka kembali pintu yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.

Anak petani, buruh, pedagang kecil maupun keluarga dengan keterbatasan ekonomi tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi.

UDK sendiri memiliki delapan program studi, yakni Manajemen, Hukum Bisnis, Kehutanan, Ilmu Lingkungan, Agroteknologi, Ilmu Perikanan, Pendidikan IPA, serta Pendidikan Kepelatihan Olahraga.

Namun, biaya murah bukan satu-satunya target. Tantangan berikutnya adalah memastikan akses yang semakin luas tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas akademik.

Dosen Didorong Berkompetisi

Upaya meningkatkan mutu akademik mulai terlihat dari capaian penelitian dosen.

Pada 2025, sebanyak 15 proposal penelitian dosen UDK berhasil mendapatkan Hibah Pendanaan Penelitian Kompetitif Nasional dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Sebanyak 14 proposal masuk kategori penelitian dosen pemula, sementara satu proposal berhasil menembus kategori fundamental.

Proposal fundamental tersebut dipimpin langsung Muharto dengan penelitian mengenai strategi pengembangan Air Terjun Inuai sebagai destinasi hijau yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Penelitian itu tidak hanya melihat potensi wisata, tetapi juga menghubungkannya dengan pelestarian lingkungan, kuliner, kerajinan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Capaian tersebut menjadi indikasi bahwa UDK mulai membangun tradisi riset yang lebih kompetitif.

Persoalan daerah tidak hanya dibicarakan dalam forum masyarakat atau pemerintahan, tetapi mulai dibawa ke meja penelitian untuk dicari solusi melalui pendekatan akademik.

Kampus Baru dan Gotong Royong

Di sisi lain, pembangunan kampus baru menjadi proyek besar yang sedang dikerjakan UDK.

Setelah sekitar 35 tahun menjalani perjalanan sebagai salah satu perguruan tinggi di Bolaang Mongondow Raya, UDK mulai membangun fasilitas baru di atas lahan milik kampus sendiri.

Lahan sekitar satu hektare tersebut diproyeksikan menjadi kawasan kampus dengan bangunan tiga lantai yang akan menampung ruang perkuliahan, rektorat, serta berbagai fasilitas pendukung.

Pembangunan itu kemudian berkembang menjadi gerakan gotong royong.

Pada momentum peletakan batu pertama, dukungan mencapai 2.795 sak semen. Bantuan kembali mengalir pada 2026, salah satunya dari PT J Resources Bolaang Mongondow sebanyak 800 sak semen.

Dukungan juga datang dari HMI Cabang Bolaang Mongondow Raya dan berbagai pihak lainnya.

Muharto tidak ingin pembangunan kampus hanya menjadi proyek yang dikerjakan oleh pengelola universitas. Mahasiswa pun dilibatkan.

Melalui KKN Angkatan XXXIII pada Juli 2026, mahasiswa diprioritaskan melaksanakan kegiatan di kawasan kampus baru.

Bagi Muharto, keterlibatan tersebut bukan sekadar pekerjaan fisik. Ia menyebutnya sebagai “investasi sosial dan amal jariah”.

Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna gedung ketika bangunan selesai. Mereka menjadi bagian dari sejarah pembangunannya.

UDK Mulai Membuka Pintu Lebih Lebar

Peran UDK di tengah masyarakat juga diperluas.

Pada 2025, kampus tersebut meresmikan Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum UDK. Lembaga ini memberikan layanan hukum bagi masyarakat kurang mampu sekaligus menjadi ruang praktik bagi mahasiswa Hukum Bisnis.

UDK juga memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah.

Salah satunya melalui keterlibatan dalam kajian pengembangan ekowisata Pulau Molosing. UDK juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, penelitian, lingkungan, pariwisata, hukum, teknologi informasi hingga pemberdayaan masyarakat.

Kampus perlahan diarahkan untuk tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi pusat pengetahuan yang ikut bekerja bersama masyarakat dan pemerintah.

Pekerjaan Besar Belum Selesai

Kepemimpinan Muharto masih berjalan.

Kampus baru di Poyowa Besar belum sepenuhnya selesai. Program pendidikan terjangkau masih harus dijaga keberlanjutannya. Tradisi penelitian juga harus terus diperkuat.

Artinya, ukuran keberhasilan kepemimpinan tidak hanya berada pada apa yang sudah dicapai, tetapi juga pada kemampuan menjaga pekerjaan tersebut agar terus bergerak.

Sebab pada akhirnya, membangun universitas bukan hanya membangun gedung.

Ada manusia yang harus dipersiapkan, ada pengetahuan yang harus dikembangkan, ada masyarakat yang harus dilayani, dan ada masa depan daerah yang harus dipikirkan.

Muharto tampaknya memahami hal itu.

Karena itu, pembangunan UDK di bawah kepemimpinannya berjalan dalam dua arah sekaligus: membangun tempat untuk belajar dan membangun kesempatan untuk belajar.

Di Poyowa Besar, beton dan dinding kampus terus tumbuh.

Sementara di ruang-ruang kelas UDK, mimpi anak-anak Bolaang Mongondow Raya untuk menjadi sarjana sedang diberi jalan.

Dan di situlah ukuran terbesar dari sebuah kepemimpinan rektor: bukan sekadar seberapa megah kampus yang berdiri, tetapi seberapa banyak masa depan anak daerah yang berhasil dibuka. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *