Oleh: Hasmiati-Mahasiswa S3 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang
RSOL, Rakyatsulutonline.com — Pernahkah anda merasa otak cepat lelah hanya karena belajar 10 menit, tetapi sanggup menatap layar ponsel selama berjam-jam tanpa jeda dan tanpa merasa lelah? Atau merasa sulit fokus pada bacaan panjang, tetapi mampu menonton video pendek tanpa henti? Fenomena ini kini dikenal luas sebagai “brain rot”, istilah yang bahkan dinobatkan sebagai Oxford’s Word of the Year 2024.
Brain rot menggambarkan kondisi ketika otak mengalami semacam kelelahan digital akibat paparan konten digital cepat dan instan yang dikonsumsi tanpa henti. Fenomena ini muncul dari kebiasaan menonton video hiburan pendek, konten receh, scrolling tanpa tujuan, dan screen time berlebihan yang memberikan stimulasi berlebih namun minim manfaat. Sejumlah riset neurosains dan pendidikan menunjukkan bahwa pola konsumsi seperti ini memunculkan dampak nyata pada fungsi kognitif, emosi, dan perilaku. Ini bukan lagi masalah sepele di dunia maya, melainkan gejala yang patut diwaspadai di era banjir informasi saat ini.
Ketika Otak Kita Melemah
Berbagai penelitian menunjukkan pola yang sama. Semakin tinggi paparan digital instan, semakin melemah kemampuan fokus, memori kerja, dan motivasi belajar. Forsler & Guyard (2025) menggambarkan smartphone sebagai “gangguan konstan” yang terus mengaktifkan sistem reward otak. Bahkan saat ponsel dimatikan, dorongan untuk memeriksanya tetap muncul, sebuah bentuk kecanduan yang mengacaukan konsentrasi.
Temuan Karapinar et al. (2024) pada Gen Z memperkuat bahwa overstimulasi digital menyebabkan kelelahan mental, atensi yang mudah terpecah, serta hilangnya kemampuan belajar mendalam. Siswa menjadi sulit membaca dalam waktu lama, cepat terdistraksi, dan lebih rentan mengalami mental fatigue.
Lebih jauh lagi, Yousef et al. (2025) menunjukkan bahwa fenomena brain rot tidak hanya berdampak pada kognisi, tetapi juga emosi. Paparan digital yang berlebihan memicu stres, kecemasan, melemahnya kontrol diri, serta kebiasaan doomscrolling dan zombiescrolling yang sulit dihentikan. Ketika otak terus dibanjiri notifikasi, video singkat, dan konten impulsif, fungsinya menurun drastis.
Riset-riset sebelumnya pun konsisten: multitasking digital memicu cognitive overload, scrolling berlebihan melemahkan memori kerja, notifikasi berulang menghancurkan atensi, dan paparan konten instan menurunkan kemampuan berpikir mendalam. Singkatnya, otak kita kelelahan bukan karena belajar terlalu berat, tetapi karena terlalu sering diberi stimulasi cepat dan konten yang dangkal.
Apa Sebenarnya yang Terjadi pada Otak Kita?
Penelitian Chen et al. (2023) menunjukkan bahwa konsumsi konten digital berlebihan (terutama konten pendek dari TikTok, Reels, YouTube Shorts) merusak tiga sistem penting dalam otak yaitu reward system, eksekutif system, dan decision-making system. Ketiga sistem ini melibatkan interaksi kompleks antara dopamin (zat kimia otak yang membuat kita merasa senang dan termotivasi) dan prefrontal cortex (PFC), bagian otak yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan fungsi berpikir tingkat tinggi.
Reward system bertugas menilai sesuatu sebagai hal yang menyenangkan, menarik, dan layak dikejar. Namun, konsumsi konten digital intensif memicu produksi dopamin instan menyebabkan reward system kehilangan sensitivitas karena otak terus diberi “hadiah instan” dari scrolling dan video pendek, sehingga otak kehilangan kemampuan menikmati hal-hal yang membutuhkan fokus lebih dalam seperti membaca atau belajar. Akibatnya kita butuh stimulus lebih kuat untuk merasa senang, belajar menjadi mebosankan, dan sulit bertahan lama dalam aktivitas yang butuh konsentrasi. Dengan kata lain, otak diprogram ulang untuk mencari kesenangan instan.
Pada saat yang sama, executive system yang bertanggung jawab atas fokus, memori kerja, perencanaan, dan pengendalian diri mengalami penurunan fungsi. Paparan dopamin berlebih mengganggu kestabilan kerja PFC, multitasking digital dan distraksi terus menerus membuat PFC kelelahan. Akibatnya seseorang lebih mudah terdistraksi, sulit mempertahankan konsentrasi, sulit fokus pada aktivitas yang bermakna, kapasitas memori kerja menurun, serta sulit menyusun rencana atau menyelesaikan tugas.
Kerusakan dua sistem ini kemudian menjalar ke decision-making system. Otak lebih memilih aktivitas yang memberi lonjakan dopamin instan (memberi kesenangan instan), meskipun tahu bahwa aktivitas tersebut tidak produktif. Akibatnya sulit menahan dorongan mengecek ponsel, menunda pekerjaan karena memilih aktivitas yang lebih rewarding (scrolling) daripada yang penting (belajar), dan kemampuan mengatur prioritas menjadi kacau. Inilah sebabnya mengapa banyak orang tetap meneruskan scrolling meski sadar harus berhenti karena keputusan kita lebih dikendalikan oleh kebiasaan dan impulsifitas, bukan kesadaran dan logika.
Dengan demikian, ketika ketiga sistem ini berada dalam kondisi buruk, otak masuk dalam pola “dopamine-driven feedback loops”.
Kita tahu scrolling membuang waktu, kita tahu harusnya belajar, tapi kita tetap melakukannya. Ini bukan sekedar kurang disiplin tetapi ada mekanisme neurologis yang berjalan. Dengan kata lain, overstimulasi konten digital tidak hanya mengganggu kebiasaan, tetapi mengubah cara kerja otak dan saraf sehingga menggeser preferensi, mengurangi ketahanan fokus, dan melemahkan kemampuan mengambil keputusan.
Digital Detox: Intervensii Perilaku untuk Otak Lebih Sehat
Masalahnya bukan pada teknologinya, tetapi pada bagaimana otak kita bereaksi terhadapnya. Digital detox bukan berarti meninggalkan teknologi sepenuhnya. Justru, detox bertujuan membuat hubungan kita dengan teknologi menjadi sehat dan proporsional dengan pengelolaan konsumsi digital secara sadar. Sederhananya detox bukan untuk menjauh dari dunia digital atau memusihi teknologi, tetapi untuk kembali menguasai diri di dalamnya. Prinsipnya adalah membangun ulang jalur atensi otak yang rusak akibat rangsangan digital berlebih.
Karapinar et al. (2024) menunjukkan bahwa detox digital dapat memutus siklus dopamin instan, menenangkan sistem reward, memulihkan jalur atensi, dan mengembalikan kemampuan fokus selama belajar. Cara paling sederhana digital detox antara lain: mematikan notifikasi, mengatur jadwal screen time, meletakkan ponsel di ruangan lain saat belajar, batasi media sosial saat makan, saat berkumpul bersama keluarga atau teman, dan sebelum tidur, menggunakan jam tangan untuk mengecek waktu alih-alih menggunakan handphone, ganti kebiasaan scrolling dengan membaca dan aktivitas fisik non digital lainnya yang lebih bermanfaat seperti olahraga, dan seni yang membantu menyeimbangkan dopamine dalam tubuh.
Saatnya Mengambil Kendali
Brain rot adalah fenomena yang lahir dari pola hidup digital yang tidak seimbang. Jika Anda merasa cepat bosan, sulit fokus, atau sering kehilangan motivasi belajar itu bukan kelemahan pribadi. Itu karena otak Anda yang kewalahan oleh dunia digital yang terlalu cepat. Namun, kabar baiknya adalah otak kita sangat adaptif dan memiliki kemampuan yang disebut neuroplastisitas. Ia mampu pulih, membentuk jalur baru dengan dan kembali bekerja optimal ketika diberi ruang untuk beristirahat.
Tantangan terbesar kita bukanlah teknologi itu sendiri, tetapi bagaimana kita memilih menggunakannya. Jika kita mampu menciptakan batasan sehat, memprioritaskan fokus, dan memberi jeda bagi otak untuk beristirahat, maka kita sedang membangun fondasi belajar yang lebih kuat dan tahan terhadap distraksi. Digital detox merupakan bentuk kepedulian pada kesehatan otak kita. Dengan mengurangi distraksi digital dan memanfaatkan kekuatan neuroplastisitas, kita bisa membawa otak kembali bekerja pada kapasitas terbaiknya. Karena masa depan belajar bukan diukur dari seberapa cepat kita mengonsumsi informasi, melainkan dari seberapa dalam kita dapat memahaminya.(**)


















